Di Tangan Anak Jalanan, Barang Bekas Itu Berharga

JAKARTA – Pendidikan adalah hak dasar setiap anak. Mereka berhak untuk menggali pengetahuan dan mengasah keterampilan di setiap waktu. Belajar adalah pilihan yang terbaik untuk mereka daripada turun ke jalan. Inilah pekerjaan rumah bagi wakil rakyat dan pemerintah terpilih.

Ribuan anak-anak warga Tanah Merah, Rawa Badak Selatan, Koja, Jakarta Utara, terancam tumbuh menjadi orang yang dekat dengan kekerasan dan tindak kriminal. Kerasnya kehidupan yang dijalani anak-anak di tanah garapan milik PT Pertamina ini membuat mereka jauh dari kelembutan tutur kata dan sikap.
Anak-anak yang lahir dari 2.150 kepala keluarga itu telah biasa hidup di tengah-tengah kehidupan yang tidak kondusif. Direktur Eksekutif Yayasan Indonesia Street Children Organization (ISCO) Ramida Siringo-ringo mengatakan, setiap harinya, anak-anak itu dipaksa menyaksikan orang tuanya bermain judi, meneguk minuman keras, dan berkata-kata kasar. “Apa yang terpampang di mata mereka kebanyakan adalah hal-hal yang buruk. Nilai-nilai itu sangat mudah diserap anak-anak,” katanya.
Bagi orang tua anak-anak penghuni tanah di utara dan barat Depo Pertamina, Plumpang, itu, pendidikan bukanlah hal yang utama. Bahkan, banyak di antara mereka yang enggan menyekolahkan anaknya. Alih-alih mengirim keturunannya mengenyam pendidikan, mereka justru membiarkan anak-anak turun ke jalan, ikut menanggung perekonomian keluarga.
Keterbatasan ekonomi memang menjadi salah satu faktor yang membuat orang tua enggan menyekolahkan anaknya. Program pendidikan gratis yang dicanangkan pemerintah bagi masyarakat dianggap membantu. Namun, masalah lainnya adalah tidak terdaftarnya warga Tanah Merah sebagai warga Jakarta. Ketiadaan surat-surat sipil warga, seperti akta kelahiran dan kartu keluarga, membuat akses anak terhadap pendidikan semakin tertutup.
“Percuma ada sekolah gratis atau bantuan pendidikan dari yayasan dan pemerintah kalau anak-anak kami tidak bisa mendaftar karena tidak punya akta kelahiran,” tutur Henrico Siahaan, Ketua RW 01 Kelurahan Rawa Badak Selatan. Secara hukum, warga di sana memang tidak memiliki hak sipil.

Beberapa warga melakukan “kecurangan” sipil dengan membuat akta kelahiran palsu demi mendaftarkan anaknya di sekolah. Usaha itu bukanlah hal yang mudah bagi mereka karena ratusan ribu rupiah harus dikeluarkan. Adanya bantuan donasi dari ISCO telah membantu 130 anak warga Tanah Merah mengecap pendidikan formal di sekolah.
Masalah tidak selesai di sana. Meski sebagian waktunya dihabiskan di sekolah formal di sekitar permukiman mereka, keterbatasan ekonomi dan pengetahuan orang tua tidak memungkinkan anak-anak itu memanfaatkan waktunya yang tersisa untuk mengasah keterampilan. Oleh orang tua, mereka dibiarkan berkeliaran di jalan-jalan kampung.
Berangkat dari kepedulian terhadap tumbuh kembang anak miskin kota, ISCO mendirikan Sanggar Kegiatan Anak (SKA) ISCO di Tanah Merah. Di sanggar yang hanya berdiri dari material kayu dan triplek inilah anak-anak itu menghabiskan waktunya dengan melatih keterampilannya dan berkreasi. SKA adalah salah satu dari program utama ISCO.

Anak Binaan
Ramida menuturkan, cita-cita sanggar itu adalah memindahkan anak-anak miskin kota dari aktivitsanya di jalanan ke sanggar. Ia mengatakan, setiap anak binaan SCO wajib menghadiri SKA untuk menekan kemungkinan mereka turun ke jalan.
Di sana, mereka belajar nilai-nilai kepribadian, seperti perilaku, disiplin, kerajinan, budi pekerti, serta pendalaman materi pelajaran di sekolah formalnya.
Di awal kehadirannya di tengah-tengah warga, sanggar ini berdiri bukan tanpa protes dan keberatan orang tua. Namun, para pengurusnya gigih melakukan pendekatan dan survei kebutuhan anak. Tidak mengherankan kalau kemudian orang tua justru terlibat aktif dalam sanggar ini, terutama dalam hal ide materi pengajaran.
“Dengan mengikuti program SKA, anak-anak akan belajar memahami budaya antre, bertanggung jawab, percaya diri, dan berprestasi,” tutur Ramida.
Alasan utama pemilihan Tanah Merah dan lokasi kumuh lainnya sebagai tempat berdirinya SKA adalah besarnya kemungkinan mereka menjadi anak jalanan atau pekerja anak. Di samping itu, mereka lebih memiliki kecenderungan dieksploitasi oleh orang tuanya dan ikut kegiatan negatif akibat pengaruh lingkungan tempat tinggal,” jelasnya.
Fiska (11), salah satu siswa binaan dan peserta SKA ISCO Tanah Merah, mengaku gembira dapat mengikuti sanggar itu. Ia berhasil menggali potensi keterampilannya. Salah satunya adalah keterampilan mengolah barang bekas menjadi pajangan-pajangan yang berdaya jual, misalnya vas bunga dari botol sirup dilapisi kertas daur ulang warna-warni, miniatur kapal dari botol air menieral, celengan dari kardus sepatu, serta gerabah binatang warna-warni dari bubur kertas koran.
Ramida mengatakan, kelangsungan kerjanya tidak lepas dari kerja sama dan bantuan donasi sponsor yang beberapa di antaranya adalah perusahaan swasta. Salah satunya adalah PT Hero Supermarket Tbk.
Ia berharap anggota dewan dan pemerintahan terpilih mendatang tidak melupakan pekerjaan rumah besar yang dihadapi bangsa ini, yaitu memberantas kemiskinan yang masih dipikul 41,7 juta orang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: